INSPIRASI PEKAN INI
26 MEI 2008. 23:33 WIB
“Tidak ada orang yg kurang menghargai agama Yahudi karena karena Musa pernah membunuh orang, tidak ada orang yg kurang peenghargaannya terhadap Katolik karena Santo Agustinus berbuat dosa pada masa mudanya, tidak ada orang yang kurang penghargaannya kepada Protestan karena Calvin telah menyuruh bakar Servetus pada tiang. dan tidak pula berkurang penghargaan terhadap Islam meskipun Nabi Muhammad SAW pernah mengeksekusi orang yahudi Bani Quraizhah dan Qunaiqa’ di Madinah.” (Sumanto al-Qurtuby).
lantas kenapa kita tidak bisa menghargai orang yang sedang berikhtiar untuk mencari jalan kebenran Tuhan??
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar














jika kebenaran itu tampak dalam satu wujud mungkin aku/kamu adalah orang yang segera terlindas oleh sejuta kaki yang mengejarnya. tapi realitanya Tuhan telah menciptakan sepuluh bahkan lebih jalan kebenaran tersebut.
***
membingungkan juga?
Sebelumnya saya ingin bertanya kepada sdr. hamimtrijoko, dari mana anda mengambil kesimpulan bahwa Tuhan menciptakan banyak jalan kebenaran..?
Menanggapi inspirasi anda, ada sedikit benang merah yang dapat ditarik bahwa kasus yang terjadi pada Musa, Agustinus, Calvin, dan bahkan Muhammad SAW adalah sama. Sama pada sisi kesemuanya pernah melakukan “kesalahan”.
Jika kita lebih dalam mencermati, terdapat perbedaan yang signifikan yang melatarbelakangi kasus2 di atas. Coba dibaca kembali sejarahnya. Dan masukan dari saya, kalimat “eksekusi” bagi Muhammad SAW dalam memerangi Bani Quraizhoh dan Qainuqo’ diganti. Agar konotasinya lebih halus dan tidak diskriminatif. terimakasih.
thanx tuk arma, atas kunjungan dan commentnya…….
mengenai kalimat “eksekusi” saya pikir tidak ada yang perlu di beratkan,
karena pertama, saua mengutip pernyataan sumanto al-qurtuby, maka saya harus menuliskan sesuai dengan apa yang beliau ucapkan.
kedua, kalimat “eksekusi” dalam ilmu hukum maknanya adalah suatu upaya baik dengan cara paksa maupun sukarela untuk melaksanakan suatu isi putusan atau suatu perjanjian. sedangkan bani Quraizhoh dan Qainuqa’ bukan dieksekusi mati oleh nabu Muhammad. setelah kalah dalam peperangan, bani qunaiqa’ berjanji untuk bersahabat dengan umat Islam. maka atas perjanjian itulah kemudian nabi Muhammad melepaskan mereka.
dari penjelasan yang kedua, maka eksekusi bukan diartikan sebagai suatu hukuman mati seperti yang biasa orang definisikan. namun eksekusi disini, merupakan pelaksanaan suatu putusan atas perjanjian yang dibuat oleh bani qunaiqa’ dengan nabi Muhammad. maka, saya pikir tidak ada konotasi yang tidak halus atau diskriminatif. mungkin tergantung asumsi dari pribadi sesorang.
mohon maaf apabila ada kekurangn dalam penjelasan tersebut, saran anda sekali lagi sangat saya harapkan demi pengetahuan. terima kasih dan salam kenal