Biografi dan Pemikiran Realisme Machiavelli

“Manusia lebih mudah melupakan kematian ayahnya dari pada kehilangan bagian warisannya” – Machiavelli

1469: Machiacelli lahir tgl 3 Mei di Floren, putri seorang ahli hukum dan bangsawan Toskana

1494: Mendalami ilmu hukum di bawah bimbingan Prof. Marcello di Virgillio

1498: Setelah jatuhnya Savanarola, ia menjabat sebagai penasihat politis kota Floren

1500: Kunjungan diplomatis ke perancis (Raja Louis XII)

1525: Mengorganisasi sebuah Pemberontakan

1512: Spanyol menaklukkan Italia dan akhir karir politis Machiavelli

1513: Ditangkap dan disiksa dengan tuduhan konspirasi; lalu diberi amnesty. Menulis Il Principe (Terbit tahun 1532)

1518: Komedinya Mandragola diterbitkan

1527: Kekalahan Medici dan kematian Machiavelli pada tanggal 22 Juni

Filosof ini hidup pada 1469-1527. Ayahnya seorang pengacara kaya di Italia, ketika Cesare Borgia menaklukkan Italia yang dikuasai Paus Julius II, Machiavelli menjadi pengamat pribadinya. Karirnya sebagai penasihat politik hancur ketika kota Florence dikuasai keluarga Medici yang memusuhinya dan menjebloskannya ke penjara selama satu tahun. Setelah bebas, dia pergi dari kota untuk menulis dan merenungka hasil-hasil pengalaman dan pengamatannya selama itu. Dia menghasilkan dua buku yang sangat terkenal, yaitu Il Principe (Sang Pangeran, terbit tahun 1532) dan Discorsi sopra la prima decade di Tito Livio (Diskursus tentang sepuluh buku pertama dari Titus Livio, Terbit tahun 1531), dia juga menulis beberapa novel dan juga menulis komedi.

Machiavelli: Hubungan Negara dan Agama

Di zaman Abad Pertengahan, Negara dibawah dominasi kekuasaan rohani gereja Katolik yang dipegang oleh Paus. Gagasan Machiavelli mencerminkan gagasan renaissans yang banyaka mengacu pada kebudayaan klasik. Machiavelli menegaskan bahwa Negara jangan sampai dikuasai agama, seperti yang berlangsung didalam kekaisaran Romawi kuno, saat agama Kristen diatur Negara. Dengan pendapat ini, dia tidak ingin mengatakan bahwa agama tidak penting,. Dia menganggap ajaran-ajaran moral dan dogma-dogma agama pada dirinya tidak begitu penting, tetapi semua yang ada dalam agama, termasuk yang tidak penting itu, ternyata memiliki fungsi untuk mempersatukan Negara. Jadi, bagi Machiavelli, agama punya segi pragmatis untuk mengintegrasikan Negara. Agama, karena itu, juga dapat mendukung patriotisme dan memperkuat pranata-pranata kebudayaan. Dengan gagasan yang sangat pragmatis tentang agama, Machiavelli tidak tergolong sebagai Ateis. Karena yang dipersoalkannya bukanlah tidak adanya Tuhan, melainkan fungsi agama dalam kehidupan politis. Akan tetapi dengan gagasannya itu, dia sebetulnya berhasil memperlihatkan bahwa agama tidak sekeramat yang disangka orang. Agama hanyalah salah satu pranata dalam kehidupan bermasyarakat yang bias difungsikan. Dalam hal ini, gagasannya mengenai agama bersifat secular.

Machiavelli: Politik dan Moralitas

Pandangan yang paling termasyhur dalam Il Principe adalah soal hubungan antara politik dan moralitas. Pandangan ini ada hubungannya dengan pandangannya tentang manusia. Dia memandang manusia sebagai makhluk yang dikendalikan oleh kepentingan diri. Manusia adalah makhluk irrasional yang tingkah lakunya diombang ambingkan oleh emos-emosinya. Kalau keadaan manusia semacam itu, menurut Machiavelli, seorang penguasa harus bias membentuk opini umum yang bias mengendalikan tingkah laku warganya. Karena itu, untuk memperkokoh kekuasaan, penguasa harus mampu memobilisasi nafsu-nafsu rendah mereka yang ingin dikuasainya demi maksud-maksudnya sendiri.

Dalam rangka dominasi itulah, menurut Machiavelli, seorang penguasa tidak perlu memperhatikan pertimbangan-pertimbangan moral. Penguasa bias saja bertindak sangat moralistis, misalnya menunjukkan kemurahan hati, sikap saleh, manusiawi, jujur, tetapi semua ini harus berfungsi untuk maksud-maksudnya. Kalau keadaan menuntut, seorang penguasa harus bersikap sebaliknya.

Machiavelli, Il Principe, bab 18 :

“Seorang penguasa harus mampu bermain baik sebagai manausia maupun sebagai binatang buas…Sang pangeran harus bias mamakai kedua kodrat itu…yang satu tanpa yang lain tidak ada. Dan karena seorang pangeran harus mampu bermain sebagai binatang buas, dia harus mencontoh rubah dan singa untuk menakut-nakuti serigala-serigala. Mereka yang hanya mencontoh singa tak tahu apa-apa. Seorang penguasa yang cerdik bisa dan karenanya juga taj harus menepati kata-katanya, jika hal itu merugikannya dan alas an-alasannya …mencolok. Andai kata semua manusia baik, nasihat ini kiranya tak ada artinya ; tetapi karena mereka tak banyak faedahnya dan kata-kata mereka tak ditepati, untuk mereka kau juga tak perlu menepatinya. Juga seorang pangeran jangan kehabisan alasan baik untuk memanis-maniskan pelanggaran janjinya “

Sumber: F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Machiavelli Sampai Nietzche. Gramedia Pustaka Utama. 2004

1 Komentar

  1. setidaknya coba penulis memnbaca buku karangan machiavelli yang berjudul discourse dia mengangkat pro kontra tentang politik zaman itu sekaligus jangan hanya membaca Il Principle saja! ok sebab il principle hanya menerangkan realita kekuasaan zaman itu


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar